Berkat Konsep CSV, Petani Kopi dan Padi pun Minat Tumpang Sari Pisang Mas Tanggamus

Berkat Konsep CSV, Petani Kopi dan Padi pun Minat Tumpang Sari Pisang Mas Tanggamus

Berkat Konsep CSV, Petani Kopi dan Padi pun Minat Tumpang Sari Pisang Mas Tanggamus

Department Head Tanggamus Operation PT GGP, Waliyuddin (kiri) saat memberikan sekolah lapang kepada petani pisang di Sumber Rejo, Selasa (4/8/2020). LAMPUNGPRO.CO/AMIRUDDIN SORMIN

Jumat, 07 Agustus 2020       45 Views      AGROBISNIS

Berkat Konsep CSV, Petani Kopi dan Padi pun Minat Tumpang Sari Pisang Mas Tanggamus

Department Head Tanggamus Operation PT GGP, Waliyuddin (kiri) saat memberikan sekolah lapang kepada petani pisang di Sumber Rejo, Selasa (4/8/2020). LAMPUNGPRO.CO/AMIRUDDIN SORMIN

Jumat, 07 Agustus 2020       45 Views      AGROBISNIS

SUMBER REJO (Lampungpro.co): Setahun belakangan ada pemandangan beda di perkebunan kopi Pekon Ngarip, Kecamatan Ulu Belu, Tanggamus. Di hamparan perkebunan kopi kualitas ekspor tersebut yang tampak tak hanya hamparan batang kopi robusta, tapi ada pohon pisang berjejer.

Petani kopi di perbukitan sejuk Tanggamus ini, tidak sedang beralih tanaman. Mereka memang sengaja menanam Pisang Mas Tanggamus secara tumpang sari di sela-sela perkebunan kopi yang dibina PT Nestle Indonesia sejak 1994 itu. 

"Tidak mudah mengajak petani kopi di sini mau tumpang sari dengan pisang. Namun konsep kerja sama yang ditawarkan PT Great Giant Pineapple membuat petani kopi tertarik," kata Sigit Wicaksono, Ketua Kelompok Tani Parikesit, Pekon Ngarip, Ulu Belu, Tanggamus, kepada Lampungpro.co, Rabu (5/8/2020).

Konsep kerja sama yang dimaksud Sigit adalah creating shared value (CSV) yang menekankan pentingnya memasukkan masalah dan kebutuhan sosial dalam strategi perusahaan. Konsep ini pertama kali diperkenalkan Michael Porter dan Mark Kramer pada 2006, lalu diracik ulang oleh PT Great Giant Pineapple (GGP) sebagai pengembangan tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).

Menurut Sigit, konsep saling menguntungkan yang ditawarkan PT GGP ini membuat 200 petani kopi di Ulu Belu sejak 2020 ini tertarik menanam Pisang Mas Tanggamus di hamparan seluas 200 hektare (ha). "Jadi, sekarang kebun petani diisi 50 persen batang kopi dan 50 persen Pisang Mas Tanggamus," kata Sigit yang juga putra tokoh dan perintis kopi Ulu Belu, Hadi Rohadi, itu.

Cerita lainnya:  Nanang Lantik 15 Pejabat Eselon III dan IV

Ketua Kelompok Tani Arjuna Sumber Rejo, Mujiyanto, saat menembang Pisang Mas Tanggamus, di Sumber Rejo, Selasa (4/8/2020). LAMPUNGPRO.CO/AMIRUDDIN SORMIN

Sigit yang merupakan generasi kedua petani kopi Ulu Belu itu mengatakan, PT GGP tidak hanya menawarkan budidaya, tapi strategi bisnis berbasis industri 4.0 yang membuat petani menerima transfer teknologi budidaya pisang lewat aplikasi e-Grower. Meski baru bergabung dalam kemitraan GGP, lahan Pisang Mas Tanggamus justru terbanyak di Ulu Belu yakni 200 ha.

"Selama ini, petani hanya menanam pisang apa adanya, tanpa sentuhan teknologi, sehingga hasilnya tak maksimal dan harganya tak terjamin. Petani kopi di Ulu Belu ini terbiasa menghasilkan produk pertanian yang berstandar ekspor. Nah, GGP menawarkan standar ekspor, sehingga banyak petani yang bergabung," kata dia.

Hal senada disampaikan Kasiyanto, petani padi asal Pekon Sumber Rejo, yang menyisihkan seperempat hektare lahannya untuk bertanam Pisang Mas Tanggamus. "Bibit pisang dan pupuk diberi oleh perusahaan. Kami juga selalu dibimbing sehingga hasilnya sesuai standar. Harganya jauh lebih tinggi dari pisang biasa lain yang rata-rata Rp1.000 per kilo," kata Kasiyanto saat berada di kebunnya.

Petani seperti Kasiyanto kini tersebar di sembilan kecamatan se-Tanggamus dengan total luas 524 hektare. Para petani itu tersebar di Kecamatan Ulu Belu seluas 200 hektare, Air Naningan (15-20 ha), Sumber Rejo (15-20 ha), Pulau Panggung (15 ha), Gisting (10), Kota Agung (10 ha), Talang Padang (10 ha), Gunung Alip (5 ha), dan Pugung (3 ha). Selain itu, ada juga di Lampung Barat yakni di Air Hitam, Liwa, dan Fajar Bulan.

Keberhasilan petani membudidayakan Pisang Mas Tanggamus, karena revolusi e-Grower yang 24 jam bisa diakses petani dan pembinaan intensif oleh tim GGP. "Kami intensif melakukan pembinaan di seluruh kecamatan dengan sekolah lapang. Tiap hari dan minggu ada tim GGP yang keliling. Jika ada yang kurang dan bermasalah apa yang harus dilakukan petani, agar kebun tetap bagus," kata Waliyuddin, Department Head Tanggamus Operation PT GGP, Selasa (4/8/2020). 

Cerita lainnya:  SMSI Dukung Imbauan Dewan Pers Tolak Permintaan THR

Standar yang ditetapkan GGP di kebun petani sama dengan yang diterapkan di perkebunan sendiri. Standarnya, kata Waliyuddin, harus dilakukan seperti perkebunan moderen. 

"Tandan pisang harus dibungkus, agar tak diserang oleh serangga dan hama penyakit yang lain. Kami ada aplikasi berbasis Android e-Grower yang membuat petani dapat melihat fitur dan panduan budidaya yang baik dan benar. Sehingga selain dapat sekolah lapang ada panduan dari aplikasi," kata Waliyuddin.

Titik krusial budidaya pisang ini, kata Waliyuddin, pada usia 6-8 bulan. Pada fase ini harus dilakukan bud injection agar kualitas pisang bagus. "Budidayanya memang harus intensif, karena kita mengejar kualitas ekspor dan pasar supermarket," kata Waliyuddin.

Kini, ada 530 petani yang tersebar di Tanggamus yang mengikuti pola CSV PT GGP itu. Para petani umumnya mengaku tertarik karena siklus tanamnya lebih cepat panen dan rutin panen daripada tanaman lain. "Tiap minggu dalam satu kebun bisa panen. Permintaannya sangat tinggi, tiap minggu diminta 1 kontainer, sementara paling banyak untuk pasar lokal, karena kami belum bisa memenuhi kuota ekspor," kata Waliyuddin, pria asal Malang, Jawa Timur itu.

Tiap minggu panen dengan harga kontrak Rp2.500/kg itu pula yang membuat petani kopi tertarik. Maklum, kopi hanya panen setahun sekali, sedangkan Pisang Mas Tanggamus bisa panen tiap minggu. 

"Bagi petani kopi, Pisang Mas Tanggamus ini solusi untuk menambah penghasilan. Sebagai gambaran dalam satu hektare bisa dihasilkan 1 ton kopi per tahun. Dengan tambahan dari pisang penghasilan petani kopi bisa tambah hingga Rp40 juta per tahun dalam satu hektare," kata Sigit.

Pencucian Pisang Mas Tanggamus di Packing House Kelompok Tani Arjuna, Tanggamus, Rabu (5/8/2020). LAMPUNGPRO.CO/AMIRUDDIN SORMIN

Pada bagian lain, Suroto, petani yang ikut bermitra dengan PT GGP, menyebutkan pendapatannya jauh meningkat. Sebelum bermitra, pendapatan bersih Rp6 juta yang diterima setelah empat bulan bertani padi dan jagung. “Setelah bermitra bukan hanya dapat pasar, harganya juga stabil. Lahan saya seluas 0,7 hektare menghasilkan 0,5 ton pisang tiap minggu. Dari hasil itu saya mendapat keuntungan bersih Rp5 juta per bulan,” kata Suroto.

Cerita lainnya:  Kain Tapis Digunakan Tokoh Nasional dalam Munas Dekranas

Petani lainnya, Ahmad Sudarwan, Ketua Kelompok Tani Nakula, Desa Margoyoso, mengaku pendapatan dari budidaya pisang tanduk, muli, dan janten seluas 1,5 hektare sebelum bermitra hanya Rp1 juta per dua minggu. Setelah bermitra selama dua tahun dia bisa menghasilkan pendapatan bersih mencapai Rp5 juta per dua minggu.

Tambahan penghasilan itu, menurut Ketua Kelompok Tani Arjuna, Mujiyanto, yang membuat petani tetap bergairah meski sempat dihadang kemarau panjang dan pandemi Covid-19. "Umumnya petani yang bergabung bukan murni petani pisang, tapi padi, kopi, dan sayuran. Namun dengan harga kontrak Rp2.500/kg banyak yang tertarik. Jadi, semua pisang yang masuk ke packing house ini harganya sama," kata Mujiyanto.

BACA JUGA: Kemitraan GGP-Petani Berbasis Industri 4.0 Bawa Pisang Mas Tanggamus Tembus Dunia

Tingginya minat petani, menurut Government Relations and External Affair Director PT GGP, Welly Soegiono, membuat pihaknya terus mendorong agar Pisang Mas Tanggamus yang digemari di mancanegara ini terus berkembang. "Ekspor akan jalan terus dan pola kemitraan berbasis share value added menjadi dasar kemitraan dengan petani," kata Welly Soegiono.

Menurut Welly, sejak 2016 pihaknya menjalin kemitraan dengan para petani di Tanggamus dengan membuat plot percontohan (demontration plot) seluas 0,5 hektare pisang mas bersama Dinas Tanaman Pangan Ketahanan Pangan dan Horitukultura (TPH) Provinsi Lampung. Dua tahun kemudian, kerja sama berkembang. Hasilnya sejak 2017, Pisang Mas Tanggamus diekspor ke Singapura dengan rata-rata jumlah ekspor satu kontainer setiap pekan.

Cita rasa Pisang Mas Tanggamus, lanjut Welly, lebih manis dan renyah karena ditanam di dataran tinggi. Konsumen di China lebih tertarik pisang mas ini ketimbang pisang Cavendish. Itu sebabnya, GGP terus mengembangkan kerja sama dengan kelompok tani, agar makin banyak Pisang Mas Tanggamus menembus pasar mancanegara. "Permintaannya tinggi, namun harus tetap dikawal dengan kualitas," kata Welly. (AMIRUDDIN SORMIN/PRO2)



#pisang mas tanggamus # pt great giant pineapple # hortikultura # tanggamus # lampung # ekspor # cvs # csr

Sumber : LampungPro.co

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.