Cerita lainnya:  Malam Lebaran Gubernur Lampung Tinjau Pelaksanaan Protokol Kesehatan di Pusat Perbelanjaan

”Ini peluang ekspor cocofiber dan cocopeat yang saat ini, Indonesia baru dapat menyuplai 3% dari total sabut kelapa yang dibutuhkan pasar ekspor. Apalagi, sabut kelapa dari Indonesia lebih diminati karena lebih berkualitas dibanding dari negara lainnya. ” kata Efli.

Untuk itu, Efli sendiri giat melakukan pembinaan terhadap mitranya yang ingin menggeluti industri limbah sabut kelapa ini. Kemudian untuk membuat industrinya bersekala kecil cukup dengan menyediakan 1 ha areal, modal bangunan dan permesinan Rp500 juta, serta modal kerja 75 juta.

Lalu dengan 65 karyawan dan kebutuhan bahan baku 15.000 butir per hari, imbuhya, maka dapat menghasilkan produksi 2  ton cocofiber dan 3 ton cocopeat. ”Margin profitnya Rp1.250.000 per hari atau Rp37,5 juta per buan dan dalam 15 bulan sudah break even point,” pungkasnya. (rim/wdi)

PT. Mahligai Indococo Fiber